Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 08 Maret 2011

Sifat Fisik, Kimia, Dan Biologi Berbagai Jenis TanahSifat Fisik, Kimia, Dan Biologi Berbagai Jenis Tanah

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau histik. Kata Ent berarti recent atau baru. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol (http://www.dasar2ilmutanah.com).
Tanah adalah tubuh alam merupakan kulit bumi, dimana manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan dapat hidup. Kehidupan manusia tergantung pada tanah dan sebaliknya baik buruknya tanah tergantung kerpada manusia dan pengelolaannya, sehingga bukan kebalikannya yang terjadi, yakni kesalahan dalam pengelolaannya akan dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada tanah ditinjau dari kesuburan dan produktivitasnya (Hasibuan, 2006).
Tanah Entisol merupakan tanah yang relatif kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman, sehingga perlu upaya untuk meningkatkan produktivitasnya dengan jalan pemupukan. Sistem pertanian konvensional selama ini menggunakan pupuk kimia dan pestisida yang makin tinggi takarannya.
Tanah pertanian merupakan ekosistem tersubsidi yang diperlukan untuk membuat kondisi optimum yang diinginkan dengan tujuan efisiensi produsen pada tingkat batas maksimum. Subsidi itu tentu saja sangat diperlukan, lebih-lebih dengan waktu singkat harus menghasilkan, seperti pada kebanyakan tanaman semusim antara 60 – 90 hari saja sumbsistem produsen mencapai kemasakan dan efisiensi fotosintesis menurun karena umur (Hanum, 2009
Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari paper ini adalah untuk mengetahui sifat fisik, kimia, dan biologi pada tanah Ensiptisol, Andisol, Insetisol, Ultisol, Tanah Sawah dan Tanah Rawa Pasang Surut di Laboratorium Kesuburan Tanah Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Kegunaan Penulisan

Merupakan salah satu tugas di Laboratorium Kesuburan Tanah Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Sifat Fisik, Kimia, Dan Biologi Berbagai Jenis TanahSifat Fisik, Kimia, Dan
Biologi Berbagai Jenis Tanah

I.Tanah Entisol
. Peningkatan takaran ini menyebabkan terakumulasinya hara yang berasal dari pupuk/pestisida di perairan maupun air tanah, sehingga mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan, sementara yang lain belum tertarik karena belum mengetahui manfaatnya terutama terhadap perbaikan sifat tanah (Pradopo, 2000).

Sifat Kimia
. Nilai ratio C/N tergolong sedang sampai tinggi, kandungan P potensial bervariasi sebagian rendah sampai sangat rendahdan sebagian sedang sampai tinggi. Demikian juga dengan K potensial. Jumlah basa dapat tukar, KB dan KTK juga bervariasi dari rendah sampai tinggi. Potensi kesuburan Entisol sangat bervariasi tergantung komposisi bahan dari sedang sampai tinggi. Psmment umumnya lebih miskin hara, sedangka orthens dan fluvens bervariasi dari sedang sampai tinggi (Damanik, dkk).
P tersedia tanah. Hasil analisis statistik dengan DMRT (Duncan Multiple Range Test) menunjukkan bahwa terdapat beda nyata antar perlakuan. Budidaya organik nyata meningkatkan P tersedia tanah. Peningkatan P tersedia ini dapat terjadi karena pelepasan P dari bahan organik yang ditambahkan, juga karena terjadinya pengaruh tidak langsung bahan organic terhadap P yang ada dalam kompleks jerapan tanah. (Hardjowigeno, 1992).

Sifat Fisika
Tanah entisol dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa sifat tanahnya tergantung dari komposisi bahan endapan yang membentuknya. Entisol memiliki khas tekstur yang sangat beragam, dari berpasir, berliat sampai lempung dengan kandungan debu tinggi (Damanik, dkk, 2010).
Selain diatas sifat fisik lainnya adalah :
a.Tanah ultisol pada umum nya berwarna kelabu.
b.Tanah ultisol berstruktur gugat kuat, gumpal – gumpal bersudut.
c.Agregat tanah kurang stabil.
d.Permeabilitas relative rendah.
e.Kandungan liat tinggi.
(Soepardi, 1983).
Sifat Biologi
Tanah relatif kurang menguntungksan bagi pertumbuhan tanaman, banyak diusahakan di daerah persawahan, mempunyai konsistensi lepas-lepas, Tadah hujan pada daerah dataran rendah

II.Tanah Andisol
Sifat Kimia
Kandungan P dan K potensial bervariasia, mulai rendah sampai tinggi. Jumlah basa dapat tukar, tergolong sedang sampai tinggi. Jumlah basa dapat tukar tergolong sedang sampai tinggi dan didominasi ion Ca dan Mg, juga sebagian K. KTK tanah sebagian besar sedang sampai tinggi, dengan KB sedang. Dengan demikian potensial kesuburan Andisols dinilai tergolong sedang sampai tinggi (Damanik, dkk, 2010).
Reaksi tanah. Untuk penetapan klasifikasi tanah tingkat seri, reaksi tanah (pH) dikelompokkan atas 2 kelas, yaitu (1) tanah masam pH < 5.5; dan (2) tanah tidak masam pH >5.5 (Hardjowigeno et al, 1996). Andisol Cikajang (Dn-1, Dn-2, dan Dn-3) umumnya bereaksi tidak masam dengan kisaran pH antara 5.7-6.0. Sedangkan Andisol Cikole (Dn-4dan Dn-5) bereaksi masam kisaran pH antara 4.7-5.2 (Safuan, 2005).
Sifat Fisika
Sifat tanah andisol yaitu :
a. Warna tanah pada umumnya hitam kelam.
b.Sangat berporous.
c.Kerapatan lindak : rendah.
d.Tekstur tanah berlempung.
e.Porositas, permeabilitas, dan stabilitas agregat tinggi (Hardjowigeno, 1989).
f.
Sifat Biologi
Sampai kedalaman 80 cm oleh plagioklas intermedier, dan opak pada kedalaman 106-190 cm, mineral lainnya augit dan hiperstin. Amfibol hijau dan plagioklas intermedier pada pedon Dn-4 dan Dn-5 relatif dominan, mineral lainnya augit, opak, gelas volkan dan hiperstin (Sutriadi dan Suradikarta, 2007).

III.Tanah Inceptisol
Sifat Kimia
pH mendekati netral atau lebih (pH < 4 tanah bermasalah) Kejenuhan basa kurang dari 50 % pada kedalaman 1,8 m COLE antara 0,07 dan 0,09 BO tingi (1,64 %-7,78%) (http:www.dasartanah.com) . Kandungan P potensial rendah sampai tinggi dan K potensial sangat rendah sampai sedang. Kandungan P potensial umumnya lebih tinggi daripada K potensial, baik lapisan atas maupun lapisan bawah. Kapasitas Tukar Kation (KTK) sedang sampai tinggi disemua lapisan. Kejenuhan basa (KB) rendah sampai tinggi. Secara umum disimpulkan kesuburan alami Inceptisol bervariasi dari rendah sampai tinggi (Damanik, dkk, 2010). Sifat Fisika Sebagian besar inceptisol menunjukkan kelas tekstur berliat dengan kandungan liat cukup tinggi (35-78%) tetapi sebagian termasuk berlempung halus dengan kandungan liat lebih rendah (18 – 35 %) (Damanik, dkk, 2010). Sifat Biologi Masih terdapat bahan induk sehingga masih banyak mikroorganisme pendekomposisi sisa tumbuhan Tanah yang masih banyat terdapat bahan induk termasuk serasah tumbuhan. Masih terdapat bahan induk sehingga masih banyak mikroorganisme pendekomposisi sisa tumbuhan ((Hardjowigeno,1989). IV.Tanah Ultisol Sifat Kimia Kandungan P potensial sangat rendah, dan K potensial bervariasi sangat rendah sampai rendah disemua lapisan tanah. Jumlah basa dapat tukar tergolong sangat rendah disemua lapisan. KTK tanah disemua lapisan termasuk rendah dan KB sangat rendah, kecuali lapisan atas termasuk rendah sampai sedang. Dengan demikian potensi kesuburan ultisol dinilai sangat rendah sampai rendah (Damanik, dkk, 2010). Sifat Fisika Data analisis tanah ultisol dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa sifat tanahnya bergantung dari bahan induks (batu liat atau pasir). Ultisol memiliki kelas tekstur yang bervariasi dari berlempung halus sampai berliat (Damanik, dkk, 2010). Defisiensi magnesium pada tanaman juga dapat terjadi pada tanaman yang ditanam pada tanah yang mempunyai perbandingan Ca/Mg dapat ditukar sangat besar. Perbandingan yang ideal adalah tidak labih dari 7:1. Pada sebagian basar humid, tanah bertekstur besar dan dikapur kalsit terus-menerus dapat meyebabkan gangguan Ca dan Mg yang akhirnya menyebabkan defisiensi Mg .Tanah ultisol pada umum nya berwarna kelabu. Tanah ultisol berstruktur gugat kuat, gumpal – gumpal bersudut. Agregat tanah kurang stabil. Permeabilitas relative rendah Kandungan liat tinggi (Hardjowigeno,1989). Sifat Biologi Sifat-sifat biologi dari ultisol adalah.Selulosa, zat pati, gula, protein, sukar didekomposisikanJasad heterotropik ( bakteri, fungi, aktinomisetes ) lebih banyak daripada jasad autotropik. (Sutriadi dan Suradikarta, 2007). V.Tanah Sawah Sifat Kimia Dalam tanah yang mengandung udara cukup, oksigen yang bertindak sebagai penerima elektron, sehingga Fe dan Mn tidak tereduksi dan tidak mengalami translokasi. Tanah sawah kahat udara karena dijenuhi air dan karena berstruktur lumpur tidak ada pori-pori yang mengantarkan udara masuk ke dalam tanah (Damanik, dkk, 2010). Sifat Fisika Kecuali itu, karena penggunaan tanah sebagai sawah umumnya tidak dilakukan sepanjang tahun, tetapi bergiliran dengan tanaman palawija (lahan kering) atau bera, maka perubahan-perubahan tersebut dapat dibedakan menjadi: (1) perubahan sementara dan (2) perubahan permanen (Sutriadi dan Suradikarta, 2007). .Dalam proses pelumpuran, pori-pori makro pada dasarnya hilang. Sekitar 91 – 100% volume yang ditempati pori-pori makro hancurkan akibat pelumpuran sehingga porositas kapiler meningkat sekitar 223%. Dengan denikian air dapat masuk dengan leluasa (Damanik, dkk, 2010). Sifat Biologi Susunan mikroba di dalam tanah sebagian besar terdiri dari bakteri, fungi, dan mikroalga. Populasi mikroba dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba yaitu: 1)   jumlah dan macam zat hara, 2)    kelembaban, 3)    tingkat aerasi, 4)    suhu, 5)    pH, dan 6)    perlakuan pada tanah seperti penambahan pupuk atau banjir yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah mikroba. (http://www.dasar2ilmutanah.com). VI.Tanah Rawa Pasang Surut Sifat Kimia KTK Tanah. Tanah dilokasi penelitian memiliki kapasitas tukar kation (KTK pH 7). Semakin tinggi dengan meningkatnya kedalaman tanah. Pada pedon secara keseluruhan, nilai kapasitas tukar kation tergolong tinggi dengan kisaran 30.13 – 40.34 me/100g tanah. Peningkatan nilai KTK, disebabkan oleh makin meningkatnya liat dan kandungan bahan organic dengan meningkatnya kedalaman tanah. Walaupun kandungan litany melebihi 15%, tetapi KTK efektik > 12 me/100g tanah dan KTK NH4OAc (pH 7) > 16 me/100g tanah, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai horizon oksi (Hasibuan, 2008).
Menurut Soil Taxonomy (Soil Survey Staff 1998), tanah gambut adalah tanah yang tersusun dari bahan organik dengan ketebalan minimal 40 atau 60 cm, bergantung pada bobot jenis (BD) dan tingkat dekomposisi bahan organik. Sedangkan bahan organik adalah:
1)Apabila dalam keadaan jenuh air, mempunyai kandungan C-organik paling sedikit 18% jika kandungan liatnya 60% atau lebih; atau mempunyai Corganik 12% atau lebih jika tidak mempunyai liat; atau mempunyai C-organik lebih dari {12 + (% liat x 0, 10)}% jika kandungan liat 0−60%.
2) Apabila tidak jenuh air, mempunyaikandungan C-organik minimal 20%.
(Sutriadi dan Suradikarta, 2007).
Sifat Fisika
Warna Tanah. Warna tanah dari atas ke bawah pada masing-masing horizon menunjukkan adanya perubahan warna yang mengarah ke warna lebih hitam. Secara menyolok lapisan atas tanah berwarna coklat kelabu (10YR5/2 – 10YR4/1), sedangkan horizon di bawahnya berwarna kelabu kehitaman hingga kelabu hitam (2.5Y4/0 – 2.5Y3/0). Hal ini terjadi akibat adanya proses reduksi secara permanent terendam air (water loged), sehingga warna kelabu (gley) yang semakin kuat. Karena walau warna tanah lapisan atas mempunyai value lebih rendah dari 3.5 (lembab), tetapi tidak bisa masuk dalam enam kategori epipedon yang lain, sehingga dimasukkan dalam ketegori epipedon (Safuan, 2005).

Sifat Biologi
Pengelolaan keharaan N lahan basah tentu tidak hanya melibatkan potensi jasad renik penambat N2 saja. Jasad renik adalah pelaku utama dari siklus N sehingga regulasi atau pengendalian siklus hara tersebut dapat dilakukan melalui pengendalian kita terhadap populasi dan aktivitas jasad renik yang terlibat atau yang ada di lingkungan tersebut (Tisdale, et all, 1985).


KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

1.Tanah merupakan tempat tumbuhnya tanaman yang memiliki sifat yang beragam.
2.Kesuburan tanah dapat diperoleh dengan pengelolaan yang tepat
3.Tanah Andisol merupakan tanah yang kaya akan bahan organik
4.Tanah lahan rawa perlu reklamasi agar dapat diolah kembali
5.Jenis Tanah mempengaruhi jenis tanaman yang diatasnya

SARAN

Pengelolaan tanah yang tepat, efektif dan evisien sangat diperlukan agar tercapai produksi yang diinginkan


DAFTAR PUSTAKA

Damanik, MMB., Hasibuan, B.E., Fauzi, Sarifuddin, Hanum, H., 2010. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press. Medan.
http:www.dasar2tanah.com diakses tanggal 5 April.2010
Hasibuan, BE., 2008. Pengelolaan Tanah dan Air Lahan Marginal. USU Press. Medan.
Hasibuan, BE.,2006. Ilmu Tanah. USU Press. Medan.
Hanum. C., 2009. Ekologi Tanaman. USU Press. Medan
Hardjowigeno, S., 1989. Ilmu Tanah (edisi revisi). Media Sarana Perkasa, Jakarta.
Safuan, La Ode. 2005. Pengapuran Tanah. Diakses pada tanggal 3 April 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar